title

29 Jun 2011

Sempena Isra Mikraj - Sultan yang menjadi Orang Buangan

Pada suatu hari, seorang Sultan di negeri Mesir telah memanggil para orang-orang terpelajar, cendikiawan dan ulama datang ke istana baginda. Tujuan baginda berbuat demikian ialah untuk membincangkan satu pekara yang telah menimbulkan keraguan baginda. 
Pekara tersebut ialah  peristiwa Mikraj Nabi Muhammad. Dikatakan, pada peristiwa tersebut Nabi diambil dari tempat tidurnya lalu dibawa ke langit. Selama waktu itu baginda menyaksikan syurga dan neraka, berbicara dengan Allah sembilan puluh ribu kali, mengalami pelbagai kejadian lain dan dikembalikan ke tempat tidurnya sementara tempat tidur baginda masih hangat. Bekas air yang terguling kerana tersentuh Nabi waktu berangkat, airnya masih belum habis ketika Nabi turun kembali.

Lalu berbincanglah para tetamu sultan itu dan seperti biasanya, selepas beberapa ketika, timbullah pertengkaran.

Para cendikiawan berpendapat bahawa hal itu benar, sebab ukuran waktu di sini dan di sana berbeza. Namun Sultan menganggapnya tidak masuk akal.Para ulama juga bersetuju mengatakan bahawa segala hal itu boleh terjadi kerana kehendak Allah, tetapi penjelasan itu tidak memuaskan hati Sultan.

Berita pertengkaran dan perbezaan pendapat itu akhirnya didengar oleh Sufi Syeh Shahabuddin, lalu dia dengan segera datang Sultan. Sufi Syeh Shahabuddin yang mashyur sebagai ulama ulung di negeri itu menerima sambutan dari sultan; menunjukkan kerendahan hati terhadap Syeh Shahabuddin. 

Sufi Syeh Shahabuddin berkata, "Tujuan patik segera mengadap tuanku ialah untuk membuktikan akan kebenaran Isra dan Mikraj Nabi Muhammad. Ketahuilah bahawa kedua tafsiran tetamu tuanku sebelum ini adalah mengelirukan. Patik ingin membuktikan bahawa ada faktor-faktor yang boleh ditunjukkan, yang boleh menjelaskan Mikraj Nabi Muhammad itu tanpa harus mendasarkan pada akal, yang dangkal dan terbatas."

Di ruang pertemuan itu terdapat empat tingkap yang tertutup. Syeh Shahabuddin memerintahkan agar tingkap yang pertama dibuka. Sultan melihat keluar melalui jendela itu. Nampak akan tuanku pegunungan nun jauh di sana sejumlah besar perajurit musuh mara untuk menyerang, bagaikan semut banyaknya, menuju ke istana. Sang Sultan sangat ketakutan.
"Tutup tingkap itu Tuanku" kata Syeh itu.
Tuanku menutup tingkap itu tetapi rasa ingin tahunya membuatkan Tuanku membukanya kembali. Kali ini tak ada seorang perajurit pun yang tampak.

Tuanku yang kebingungan segera membuka tingkap yang kedua. Kali ini nampak akannya kota di luar istana terbakar. Sultan berteriak ketakutan.
"Jangan bingung, Tuanku; tak ada apa-apa," kata Syeh itu. Ketika tingkap itu ditutup lalu dibuka kembali, tak ada api sama sekali.

Dengan segera tingkap ketiga dibuka, terlihat banjir besar mendekati istana. Kemudian ternyata lagi bahwa banjir itu tak ada, bila tingkap itu ditutup dan di buka kembali.

Jendela keempat dibuka, dan yang tampak bukan padang pasir seperti biasanya, tetapi sebuah taman firdaus. Dan setelah jendela tertutup lagi, lalu dibuka, pemandangan itu tak ada.

Tanpa menunggu Sultan yang masih kebingungan,  Syeh Shahabuddin meminta sebekas air, dan meminta Sultan memasukkan kepalanya dalam air sesaat saja. 
Sultan dengan segera melakukankannya, lalu pada masa dia ingat telah mengangkat mukanya dari bekas air, rupa-rupanya dia berada di sebuah pantai yang sepi, di tempat yang sama sekali tak dikenalnya. 
Sultan marah sekali dan ingin membalas dendam, kerana telah di dipermainkan oleh Syeh Shahabuddin.

Sultan memulakan langkah untuk mencari manusia untuk meminta pertolongan. Selepas berjalan beberapa ketika Sultan bertemu dengan beberapa orang penebang kayu. Mereka yang kehairanan yang melihat akan keadaan SUltan,  yang menanyakan siapa dirinya. Karena sulit menjelaskan siapa dia sebenarnya, Sultan mengatakan bahwa ia terdampar di pantai itu karena kapalnya pecah. Mereka lalu memberinya pakaian dan menunjukkan dia arah ke kota dan dia pun berjalan ke sana. 
Di kota itu sultan berjalan mundar-mandir tanpa arah tuju. Kelakuannya ternampak oleh seorang tukang besi lalu bertanya siapa dia sebenarnya. 
Sultan menjawab bahwa ia seorang pedagang yang terdampar, hidupnya tergantung pada kebaikan hati penebang kayu dan tanpa mata pencarian.

Si Tukang besi kemudian menjelaskan tentang adat di kota tersebut. Semua pendatang baru boleh meminang wanita yang pertama ditemuinya di tempat mandian awam dengan syarat si wanita itu harus menerimanya. Sultan itupun lalu pergi ke tempat mandi awam, dan dilihatnya seorang gadis cantik keluar dari tempat itu. Ia bertanya apa gadis itu sudah kawin: ternyata sudah. Jadi ia harus menanyakan yang berikutnya, yang wajahnya sangat buruk. Dan yang berikutnya lagi. Yang ke empat sungguh-sungguh molek. Katanya ia belum kawin, tetapi ditolaknya Sultan karena tubuh dan bajunya yang tak keruan.

Tiba-tiba ada seorang lelaki berdiri didepan Sultan katanya, "Aku disuruh ke mari menjemput seorang yang kusut di sini. Ayo, ikut aku."

Sultanpun mengikuti pelayan itu, dan dibawa kesebuah rumah yang sangat indah. Ia pun duduk di salah satu ruangannya yang megah berjam-jam lamanya. Akhirnya empat wanita cantik dan berpakaian indah-indah masuk, membawa wanita kelima yang lebih cantik lagi. Sultan mengenal wanita itu sebagai wanita terakhir yang ditemuinya di rumah mandi umum tadi.
Wanita itu memberinya selamat datang dan mengatakan bahwa ia telah bergegas pulang untuk menyiapkan kedatangannya, dan bahwa penolakannya tadi itu sebenarnya sekadar merupakan basa-basi saja, yang dilakukan oleh setiap wanita apabila berada di jalan.
Kemudian menyusul makanan yang lazat. Jubah yang sangat indah disiapkan untuk Sultan, dan musik yang merdu pun diperdengarkan.

Sultan tinggal selama tujuh tahun bersama istrinya itu, sampai ia menggunakan habis harta isterinya. Kemudian wanita itu mengatakan bahwa kini Sultanlah yang harus menanggung hidup keduanya bersama ketujuh anaknya.Ingat pada sahabatnya yang pertama di kota itu, Sultan pun kembali menemui tukang besi untuk meminta nasehat. Karena Sultan tidak memiliki kemampuan apapun untuk bekerja, ia disarankan pergi ke pasar menjadi kuli.Dalam sehari, meskipun ia telah mengangkat beban yang sangat berat, ia hanya dapat  sedikit sahaja dari jumlah yang di perlukan untuk menyara keluarganya.

Hari berikutnya Sultan pergi ke pantai, dan ia sampai di tempat pertama kali dulu ia muncul di sini, tujuh tahun yang lalu. Ia pun memutuskan untuk sembahyang, dan mengambil air wudhu: dan pada saat itu pula mendadak ia berada kembali di istananya, bersama-sama dengan Syeh itu dan segenap pegawai istananya.

"Tujuh tahun dalam buangan, hai orang jahat" teriak Sultan. "Tujuh tahun, menghidupi keluarga, dan harus menjadi kuli: Apakah kau tidak takut kepada Tuhan, Sang Maha Kuasa,
hingga berani melakukan hal itu terhadapku?"
"Tetapi kejadian itu hanya sesaat," kata guru Sufi tersebut, "hanya pada waktu tuanku mencelupkan wajah ke air itu."
Para pegawai istana membenarkan hal itu.

Sultan sama sekali tidak bisa mempercayai sepatah katapun. Ia segera saja memerintahkan memenggal kepala Syeh itu. Kerana merasakan bahawa hal itu akan terjadi maka Syeh pun menunjukkan kemampuannya dalam Ilmu Gaib (Ilm el-Ghaibat). Syeh Shahabuddin segera lenyap dari istana tiba-tiba berada di Damaskus, yang jaraknya berhari-hari dari istana itu.

Dari kota itu ia menulis surat kepada Sultan:

"Tujuh tahun berlalu bagi tuanku, seperti yang telah tuanku rasakan sendiri; padahal hanya sesaat saja wajah tuan tercelup di air. Hal tersebut terjadi kerana adanya kekuatan-kekuatan tertentu, yang hanya dimaksudkan untuk membuktikan apa yang boleh terjadi. Bukankah menurut kisah itu, tempat tidur Nabi masih hangat dan kendi air itu belum habis isinya?
Yang penting bukanlah terjadi atau tidaknya peristiwa itu. Segalanya mungkin terjadi. Namun, yang penting adalah makna kenyataan itu. Dalam hal tuan, tak ada makna sama sekali.
Dalam hal Nabi, peristiwa itu mengandung makna." 

Catatan Dinyatakan, setiap ayat dalam Quran memiliki tujuh erti, masing-masing sesuai untuk keadaan pcmbaca atau pendengarnya.
Kisah ini, seperti macam lain yang banyak beredar di kalangan Sufi, menekankan nasihat Nabi  Muhammad, "Berbicaralah kepada setiap orang sesuai dengan taraf pemahamannya."
Kaedah Sufi, menurut Ibrahim Khawas, adalah: "Tunjukkan hal yang tak diketahui sesuai dengan cara-cara yang 'diketahui' khalayak."

(Versi ini berasal dari naskah bernama Hu-Nama "Buku Hu" dalam kumpulan Nawab Sardhana, tahun 1596 

1 comment:

matt said...

aduh... sangat bagus karya pendek ini.. sinis sekali... dan penuh dengan pengajaran pada yang mahu berfikir